Kereta senja, perpisahan, dan sebuah tangisan
Sore yang cerah dalam perjalanan perpisahan
Perpisan tanpa sebab yang tak mampu aq ungkapkan
Perpisahan dalam kebahagiaan dan kesedihan
Perpisahan ku denganmu
Perjuangan ini begitu melelahkan jiwaku
Lelahku telah menipu hatiku
Menyakiti hatimu dalam kebahagiaan
Kebahagian yang mengukir rasa sakitmu
Kereta senja segera berangkat
Kau terlihat bahagia namun sedih
Terlalu sedih dalam tangismu
Sedih akan ditinggalkan atau tersakiti
Tangismu adalah tangisku
Kebahagianmu adalah kebahagianku
Namun semua tangis itu tak mampu aq hapus
Sampai saat ini juga aq tetap tak mampu
By. Cuenking. Blogspot. Com
Pernah suatu ketika, perjalananku ke kota Nganjuk menjadi sebuah perjalanan yang terkhir kalinya buatku dan buat kekasihku marjiana, perjalanan yang menyita pikiranku, dan melenyapkan semua kenangan-kenangan indah bersamanya. Perjalanan yang tak mampu aq lakukan, perjalanan dimana akan ada sebuah tangisan entah karena perpisahan ataukah tangisan kebahagiaan.
Aq berangkat pukul 06:30 dari stasiun mojo menuju kota Nganjuk, kota dimana aq merajud cinta bersamanya, mengenalnya adalah sebuah kenikmatan dunia sungguh aq sangat bersyukur, namun perjalanan ini akan menyakitinya bila ia mengetahui kenyataanya, sungguh diluar akal dan logikaku. Pikiranku saja tak mampu membayangkannya, apa lagi mulut dan lidahku. Sungguh aq tak mampu mengatakannya. Sesampainya di Nganjuk aq begegas menuju rumahnya, sungguh tak mampu aq menceritakkannya, aq hanya melihat bidadariku sedang menunggu cintanya, pangeran impiannya yang telah lama pergi walau hanya sebulan sekali aq melihatnya, asalamassalamua dik,.. Waallaikumsalam mas sugeng sambil memperllihatkan senyum indahnya ia menyambutku, sambil memegang tanganku ia mengajakku keteras depan rumahnya yang telah ia siapkan segelas kopi dan sepiring makanan ringan, sungguh pertemuan yang sangat ia harapkan dan ia rindukan, hingga matanya berkaca-kaca setiap bertemu denganku, tak seperti biasanya, aq hanya bisa terdiam di depan meja yang membisu, kaku, tanpa expresi. Sungguh memalukan aq hanya bisa terdiam tanpa sopan. Sambil melihatku ana bertanya adakah yang mengganggu dipikiran mas, sambil menggenggam tanganku yang sedikit dingin, ah.. Tidak ada apa kq dik, namun kenapa mas hanya terdiam, apakah ana kurang cantik ataukah mas sudah tak sayang lagi dengan ana.... Sungguh semakin pucat aq dibuatnya, seperti tersambar sengatan raja lebah namun aq berusaha menahannya, oh.. Nggak juga, mas cuma capek aja, celetukku tehadapnya. Oh.. Sini aq pijitin kepalanya mas biar capeknya hilang, aq hanya mengangukkan kepalaku saja, ketika jari-jari lembutnya menyentuh kepalaku, layaknya seorang ibu sedang menyentuh tubuh mungil anaknya, dimana ia tak mau menyakiti ataupun menggoresnya, walau tangan-tangan itu penuh luka pengorbanan demi orang yang ia sayangi. Semakin tak mampu aq mengungkapkannya, sungguh tak tega, aq melihat kebahagiaan tersirat dimatanya, sebuah harapan dan keinginan yang tulus, tak mungkin aq menyakitinya, masih tetap terdiam dalam kekosongan jiwa dan keputus asaan. Namun ana tetap sabar dan tak pernah melepas genggamannya, hingga 3 jam terlewati hanya dengan suasana diam dan sepi, aq pun beranjak bangkit dan berpamitan kepadanya, namun sungguh ia sangat tak merelakan aq pergi dari sisinya, .. Aq harus pergi ana pintaku lirih,.. Apakah mas akan pergi untuk kembali mengunjungiku,... Aq pun terdiam sejenak dan menjawabnya insallah ana, sebuah tangisan pun pecah didepanku, terasa kaku, lemah, dan tak berjiwa. Aq hanya bisa memeluknya erat, iya pelukan erat untuk terkhir kalinya aq bersamanya.
Ana mengantarku ke stasiun Nganjuk dengan berjalan kaki, karna ia tak mau melepas momen-momen yang berharga baginya, dalam kesedihan ia terus menggenggam tanganku, dan berusaha tetap dekat dengan tubuhku, tubuhku yang sungguh tak mampu mengungkapkan kejujuran, yg sangat rapuh, mengecewakan dan sungguh sangat hina sebagai laki-laki tangguh, diperjalanan ia tak pernah melepas pandangannya kepadaku, sampai saat ini pun aq masih mengingatnya. Hingga sampailah di stasiun Nganjuk ia tetap tak mau meninggalkanku, sungguh sebuah kesetiaaan yg luar biasa, sampai suwara kereta terdengar, aq hanya bisa melihat sebuah tangisan, dimana tangisan itu memperlihatkan sebuah kesedihan ataukan kebahagiaan yang ia terima, masih tak mau melepas genggaman tangannya, hingga akhirnya aq melepaskanya ketika kereta besi memutarkan rodanya, roda takdir perpisahanku dengannya, sampai akhirnya aq hanya bisa mengirim surat kepadanya, surat yang memberinya luka yang dalam, sehingga ia pun takmampu bangkit kembali, luka yang tak pernah ia mengerti, luka kekecewaan, luka yang tak mampu aq ungkapkan langsung kepadanya, sampai hari ini juga aq tak mampu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar